Perencanaan Geometrik Jalan Raya

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.            Latar Belakang

Desain jalan raya merupakan salah satu syarat kelulusan yang harus ditempuh oleh mahasiswa jurusan Teknik Sipil S1. Desain jalan raya erat kaitannya dengan mata kuliah Rekayasa Jalan Raya I dan Rekayasa Jalan Raya II.

Jaringan jalan raya yang merupakan prasarana transportasi darat yang memegang peranan penting dalam sektor perhubungan terutama untuk kesinambungan distribusi barang dan jasa. Keberadaan jalan raya juga sangat diperlukan untuk menunjang laju pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan sarana transportasi yang dapat menjangkau daerah-daerah yang terpencil. Oleh karena itu, perencanaan jalan raya harus bertujuan untuk terciptanya lalu lintas yang lancar, aman, nyaman, cepat, efesien dan ekonomis.

Jalan raya harus memiliki syarat-syarat ekonomis menurut fungsi, volume serta sifat-sifatnya. Untuk itu diperlukan perencanaan jalan raya yang memenuhi standar perencanaan jalan raya Bina Marga.

Dalam perencanaan jalan raya, bentuk geometrik ditetapkan sedemikian rupa sehingga jalan yang bersangkutan dapat memberikan pelayanan yang optimal pada lalu lintas sesuai dengan fungsi yang dititik beratkan pada perencanaan bentuk fisik jalan yang tak terpisahkan dari perkerasan jalan.

Perencanaan geometrik jalan merupakan bagian dari perencanaan yang menentukan dimensi yang dinyatakan dari suatu jalan beserta bagian-bagiannya. Perencanaan geometrik ini meliputi :

 

 

-        Alinemen Horizontal

Dititikberatkan pada bagian tikungan jalan yang memenuhi persyaratan teknis lalu lintas.

-        Alinemen Vertikal

Menggambarkan perencanaan elevasi sumbu jalan berupa profil memanjang, tanjakan dan turunan.

Dari hasil perencanaan geometrik jalan ini, selanjutnya dilaksanaankan perkerasan jalan. Penentuan tebal perkerasan sesuai dengan yang dibutuhkan jalan raya, juga harus disesuaikan dengan syarat-syarat teknis agar konstruksi jalan yang direncanakan optimal. Bagian perkerasan jalan umumnya meliputi lapisan permukaan (surface), lapisan pondasi atas (base), lapisan pondasi bawah (subbase), dan lapisan tanah dasar (subgrade).

Perkerasan jalan dilakukan sesuai dengan perencanaan tebal perkerasan sesuai denga umur rencana, maupun secara bertahap. Selanjutnya volume lapisan perkerasan dapat diperhitungkan.

 

1.2       Tujuan Desain Jalan Raya

Adapun desain jalan raya ini bertujuan untuk :

  1. Perencanaan geometrik jalan raya
  2. Perencanaan struktur perkerasan jalan
  3. Memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan jenjang studi di jurusan teknik sipil S1 UNRI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PERMASALAHAN

 

            Dalam perencanaan geometrik jalan raya yang dititik beratkan pada perencanaan suatu jalan. Adapun masalah-masalah tersebut harus dianalisa, di desain dan dikalkulasikan oleh seorang perencana.

Berdasarkan topografi akan ditentukan lintasan jalan yang mengubungkan titik B ke titik N dengan data-data sebagi berikut :

  1. Peta kontur dengan skala 1: 2000
  2. Titik yang dihubungkan :

-        Titik G       = (9969.9992 ; 9600.7599)

-        Titik I        = (10691.1297; 9924.9966)

  1. Umur Rencana (UR)                                       : 20 tahun
  2. Tingkat Pertumbuhan Lalu Lintas

-        Selama Pembangunan                                     : 2,7%

-        Selama Umur Rencana                                    : 2,6 %

  1. Distribusi Lalu Lintas

-        Mobil Penumpang/Kend.Ringan              : 1450  kendaraan

-        Bus                                                            : 173    kendaraan

-        Truk 2 as                                                   : 63      kendaraan

-        Truk 3 as                                                   : 56      kendaraan

  1. Kelas Jalan                                                      : Arteri Kelas III a

 

Dari latar belakang pada bab sebelumnya, dapat dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimana bentuk perencanaan geometrik jalan raya yang dapat memenuhi syarat teknis dan ekonomis, sehingga dalam penggunaannya dapat :

-        Nyaman     : Tidak banyak tikungan, tidak terjal, tanpa gangguan

-        Aman        : Tidak terjadi kecelakaan

-        Pendek      : Jarak dan waktu tempuh relatif singkat

  1. Apa yang harus dilakukan dalam perencanaan geometrik jalan raya agar masalah-masalah sosial yang timbul seperti kebisingan, polusi udara dan kecelakaan dapat dihindari.
  2. Bagaimana caranya agar jalan raya yang direncanakan dapat meningkatan kemajuan pada sektor ekonomi (industri), perdagangan dan pertanian serta sektor pertahanan dan keamanan.

BAB III

 

 

3.1              TRASE JALAN

 

Beberapa kriteria perencanaan trase jalan :

  1. Jarak lintasan tidak terlalu panjang.
  2. Pelaksanaan dan pemeliharaan operasional mudah dan efesien.
  3. Ekonomis dari segi pelaksanaan, pemeliharaan dan operasionalnya.
  4. Aman dalam pelaksanaan, pemeliharaan dan operasionalnya.
  5. Memenuhi perencanaan desain.
  6. 1.      Alternatif 1

Dipilih lintasan lurus, yang menghubungkan titik G ke titik I.

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada lintasan ini elevasi tertinggi yang dilalui adalah elevasi 87,9 dan elevasi yang terendah adalah elevasi 83. Lintasan ini tidak memenuhi point 2 dan 3, tanpa memandang kondisi topografi dan tanpa memperhitungkan volume galian dan timbunan serta tidak sesuai dengan kriteria desain.

Selain itu alternatif I ini, juga tidak memenuhi syarat penyelesaian tugas desain jalan raya, yang diharapkan mahasiswa mampu menyelesaikan permasalahan dalam merencanakan suatu lengkungan pada perencanaan alinemen horizontal

 

  1. 2.      Alternatif lintasan II

Dipilih lintasan dengan elevasi muka tanahnya mendekati pada kontur. Bentuk lintasan ini efisien karena hanya membentuk dua tikungan, memperhitungkan banyaknya galian dan timbunan yang sama.

 

 

P2

I

P1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.2              HITUNG ALTERNATIF KOORDINAT TERPILIH

Secara Grafis

Dari peta kontur skala 1: 2000, dimana 1 cm jarak di peta sama dengan 2 m dilapangan. Koordinat titik diperoleh :

 

-        Titik G       = ( 9969.9992 ; 9600.7599)

-        Titik P1     = (10244,5998; 9661,9769)

-        Titik P2     = (10550,0168; 9800,6268)

-        Titik I        = ( 10691.1297; 9924.9966)

 

Perhitungan Jarak

  • Secara Grafis

Perhitungan jarak antara titik didapat dengan pengukuran langsung pada gambar  AutoCAD

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

v  Perhitungan jarak antara G dengan P1             = 281,4335 m

v  Perhitungan jarak antara P1 dengan P2                        = 335,3637 m

v  Perhitungan jarak antara P2  dengan I              = 188,0614 m

 

 

  • Secara Analitis

 

Maka :

m mm

 

 

3.3              KLASIFIKASI MEDAN

Menurut Bina Marga dalam Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota (TPJAK) No. 038/T/BM/1997, medan diklasifikasikan berdasarkan kondisi sebagian besar kemiringan medan yang diukur tegak lurus garis kontur. Klasifikasi medan dibedakan seperti tabel 3.1 berikut :

 

 

TABEL 3.1    Klasifikasi Medan

No Jenis Medan Notasi Kemiringan Medan (%)
1. Datar D < 3
2. Perbukitan B 3 – 25
3. Pegunungan G > 25

Sumber : Bina Marga TPGJAK No. 038/ T /BM/1997

 

 

 

TABEL 3.2 Klasifikasi Medan

TITIK

STA

ELEVASI

JARAK

BEDA TINGGI

KEMIRINGAN

G

0

+

0

83

50

0

0.00%

1

0

+

50

83.26965

50

0.26965

0.54%

2

0

+

100

82.726

50

0.54365

1.09%

3

0

+

150

83.3481

50

0.6221

1.24%

4

0

+

200

82.8925

50

0.4556

0.91%

5

0

+

250

83.11631

50

0.22381

0.45%

P1

0

+

281.399

84.81

31.3985

1.69369

5.39%

6

0

+

300

84.5557

50

0.2543

0.51%

7

0

+

350

86.0026

50

1.4469

2.89%

8

0

+

400

84

50

2.0026

4.01%

9

0

+

450

84.29165

50

0.29165

0.58%

10

0

+

500

84.988

50

0.69635

1.39%

11

0

+

550

85.956

50

0.968

1.94%

12

0

+

600

84.1804

50

1.7756

3.55%

P2

0

+

616.866

83.66935

16.8663

0.51105

3.03%

13

0

+

650

84.1715

50

0.50215

1.00%

14

0

+

700

84.155

50

0.0165

0.03%

15

0

+

750

87

50

2.845

5.69%

16

0

+

800

86.1214

50

0.8786

1.76%

I

0

+

806.328

87.96

6.3278

1.8386

29.06%

Rerata=

3.25%

 

Keterangan:

Beda Tinggi    =

Kemiringan     =

 

`

Persentase kemiringan yang didapat adalah 3.25 % , maka menurut tabel  3.1 jenis medan adalah perbukitan.

 

3.4              LHR RENCANA

Sebelum menentukan LHR, maka terlebih dahulu menetapkan ekivalen mobil penumpang (emp). Dari jenis medan, maka ekivalensi mobil penumpang (emp) didapatkan berdasarkan tabel 3.3 berikut:

 

 

 

Tabel 3.3    

No

Jenis Kendaraan

Kondisi Medan

Datar / Perbukitan Pegunungan

1

Sedan, Jeep, Station Wagon,

1

1

2

Pickup, Bus Kecil, Truk Kecil

1.2 – 2.4

1.9 – 3.5

3

Bus dan Truk Besar

1.2 – 5.0

2.2 – 6.0

Sumber : Bina Marga TPGJAK No. 038/T/BM/1997  

 

Mobil penumpang

Jadi,besarnya faktor ekivalensi mobil penumpang untuk masing – masing kendaraan adalah :

1.         Kendaraan ringan/mobil penumpang  :1

2.         Bus                                                      :2

3.         Truck 2 as                                            :3

4.         Truck 3 as                                            :4

Distribusi lalu lintas :

 

Dari data-data diketahui :

Umur Rencana (UR)                                : 20 Tahun

Tingkat pertumbuhan lalu lintas               : 2,6 %

 

-         LHR Data                               : 2209

Maka :

-         LHR Awal Umur Rencana     : (1 + i)n x LHR Data

: (1 + 0,027)20 x 2209

: 3769.609 SMP

-         LHR Akhir Umur Rencana     : (1 + i)n x LHR awal

: (1 + 0,026)20 x 3763.609

: 6288.568 SMP

 

-         LHR rata-rata                          :

:

:  5026.09 SMP

 

 

3.5              KLASIFIKASI JALAN

Jalan diklasifikasikan dalam kelas-kelas, berdasarkan fungsi dan besarnya volume serta sifat lalu lintas :

 

 

Tabel 3.5 Klasifikasi Menurut Kelas Jalan

 

Sumber :      Tata Cara Perencanaan Jalan Antar kota, Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jendral Bina Marga, Jalan No. 038/T/BM/97

 

 

Jadi sesuai dengan Tabel 3.1 TCPGJAK (Tata Cara Perencanaan Jalan Antar Kota), bahwa dengan jarak LHR = 5026.09 SMP, maka jalan tersebut diklasifikasikan Jalan Kelas III a ( jalan Arteri)  1500  s.d  8000 SMP.

 

3.6              KECEPATAN RENCANA

Kecepatan adalah besaran yang menunjukkan jarak yang ditempuh dalam kurun waktu tertentu. Kecepatan menggambarkan nilai gerak dari kendaraan, biasanya dinyatakan dalam km/jam.

Kecepatan rencana / Design Speed (Vr) adalah kecepatan maksimum yang dipilih sebagai dasar perencanaan geometrik jalan yang memungkinkan kendaraan – kendaraan bergerak secara aman dan nyaman dalam kondisi suasana cerah, arus lalu lintas kecil dan pengaruh hambatan samping jalan tidak berarti. Kecepatan rencana ditentukan berdasarkan fungsi jalan dan jenis medan dari jalan yang direncanakan, seperti pada tabel 3.6 berikut:

 

Tabel 3.6        Kecepatan Rencana (VR) sesuai dengan Fungsi Jalan dan Klasifikasi Medan

 

Diambil VR = 80 Km/jam

Sumber : Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Bina Marga, Jalan No. 038/T/BM/97

 

 

Berdasarkan medan yang didapat yaitu perbukitan, maka kecepatan rencana yang diambil adalah 80 Km / Jam.

 

3.7              PERENCANAAN ALINEMEN HORIZONTAL

3.7.1        Perhitungan Rmin

Jari – jari minimum (Rmin) merupakan nilai batas lengkung atau tikungan untuk suatu kecepatan rencana tertentu. Jari jari minimum merupakan nilai yang sangat penting dalam perencanaan alinemen terutama untuk kesellamatan kendaraan bergerak di jalan.

Jari – jari minimum (Rmin) didapat dari rumus berikut:

 

Dik:

 

 

= 210

 

3.7.2        Penentuan Rc

  • Jika tidak perlu superelevasi

Superelevasi tidak diperlukan apabila nilai R lebih besar atau sama dengan yang ditunjukkan tabel 3.7 berikut :

Tabel 3.7 Jari-Jari yang diizin kan tanpa Superelevasi.

Vr(km/jam)

120

100

80

60

R minimum (m)

5000

2000

1250

700

Sumber : Bina Marga TPGJAK No. 038/T/BM/1997

 

  • Jika tidak perlu lengkung peralihan

Tabel 3.8 Jari-jari tikungan yang tidak memerlukan lengkung peralihan

Vr (km/jam) 120 100 80 60 50 40 30 20
R Minimum (m) 2500 1500 900 500 350 250 130 60

Sumber : Bina Marga TPGJAK No. 038/T/BM/1997

 

  • Jika lebih besar dari Rmin

Tabel 3.9 Panjang jari-jari minimum (dibulatkan) untuk emaks 10%

Vr (km/jam) 120 100 90 80 60 50 40 30 20
R Min (m) 600 370 280 210 115 80 50 30 15

 

Apabila kecepatan rencana 80 Km/jam, jari-jari minimumnya adalah     210 m. Sehingga jari – jari diatas Rmin diambil sebesar 350 m.

 

3.7.3        Perhitungan e max dengan menggunakan Rc Diambil Rc jika tidak perlu lengkung peralihan, Rc =900 m Perhitungan e didapat dari rumus berikut :

Perhitungan emaks.

  •  jika tidak perlu super elevasi, Rc =1250 m.

emax        = == -0,0997 = -9,97 %

  •  jika tidak perlu lengkung peralihan,Rc = 900 m.

emax        = == -0,084 = -8,4 %

  • jika Rc > Rmin, dimisalkan Rc=300 m

emax        = == 0,0279 = 2,79 %

 

  • jika Rc = Rmin, Rmin = 210 m = Rc.

emax        = = = 0,09997 = 9,9 %

 

3.7.4        Perhitungan Ls (Lengkung Peralihan)

Panjang lengkung peralihan (Ls), menurut Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Raya Antar Kota (1997), diambil nilai terbesar dari tiga perhitungan berikut ini :

  • Berdasarkan waktu tempuh maksimum(3 detik)

T = Waktu tempuh = 3 detik

  • Berdasarkan antisipasi Gaya Sentrifugal:

 

c = Perubahan Kecepatan, diambil 1 – 3 m/dt2

jika Rc tidak perlu lengkung peralihan, Rc =900m

 

 

Ls= 77,10 m

 

jika Rc > Rmin , Rc =300m, emaks = 0,0279

 

 

Ls= 78,65 m

jika Rc = Rmin , Rc =210m, emaks = 0,0997

 

 

Ls= 79,7186 m

 

  • Berdasarkan Tingkat Pencapaian Perubahan Kecepatan:

 

 

 

 

 

 

Diambil nilai terbesar, jadi untuk Ls tikungan 2 adalah 76.896 m

 

3.7.5        Perhitungan Sudut Tikungan

a) Perhitungan jarak antar titik

Perhitungan jarak antara titik didapat dengan pengukuran langsung pada gambar  AutoCad :

v  Perhitungan jarak antara G dengan P1    = 281,4335 m

v  Perhitungan jarak antara P1 dengan P2            = 335,3637 m

v  Perhitungan jarak antara P2  dengan M   =  188,0614 m

 

 

Perhitungan antara titik dengan analisa :

Rumus

Maka :

m mm

 

b).  Perhitungan sudut pertemuan tikungan

Perhitungan sudut pertemuan tikungan didapat dari pengukuran langsung pada gambar AutoCad dengan memuat perpanjangan salah satu garis kemudian mengukur sudut antara perpotongan garis dengan garis yang tidak diperpanjang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar           Sket Sudut Pertemuan Tikungan

-        ∆ 1= 120

-        ∆2 = 170

 

 

 

 

 

 

 

Dari keempat titik diatas dapat diperoleh azimuth. Sudut azimuth dapat dihitung dengan persamaan :

 

  • α1 adalah azimuth titik G dengan titik P1

 

 

  • α2 adalah azimuth titik P1 dengan titik P2

 

  • α3 adalah azimuth titik PI 2 dengan titik I

Dari α1 dan α2 maka dapat dihitung sudut tikungan antara garis G-PI 1 dan PI 1-PI 2 :

2 = α2 – α3 = 65.589° – 48.7° = 16.889°

 

3.7.6 Perhitungan Tikungan.

Tikungan 1

Direncanakan dengan Full Circle (FC)

VR       = 80 Km/jam

∆          = 12°

RC          = 900 m  è  berdasarkan Tabel 1.5

 

Tabel 3.11 Jari-jari tikungan yang tidak memerlukan lengkung peralihan

Vr (km/jam) 120 100 80 60 50 40 30 20
R Minimum (m) 2500 1500 900 500 350 250 130 60

Sumber : Bina Marga TPGJAK No. 038/T/BM/1997

 

emax        = == – 0.084006 %

Panjang lengkung peralihan (Ls), menurut Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota 1997, diambil nilai yang terbesar dari tiga persamaan dibawah ini :

  • Berdasarkan waktu tempuh di lengkung peralihan
  • Berdasarkan antisipasi gaya sentrifugal

 

 

Ls= 76.89 m

  • Berdasarkan tingkat pencapaian perubahan kelandaian

 

Diambil  yang terbesar yaitu 76,89 m dan dipakai 77 m

karena nilai emaks negative maka dipakai nilai emaks minimal yaitu 2%

Dari data diatas diperoleh :

q             =  ½ ∆= ½ (11.8°) = 5.9o

Tc        = R tg ½ ∆

= 1250 x tg 5.9o

= 129,174 m

 

Ec        = TC tg ¼  ∆

= 129,174 x tg ¼ 11.8o

= 6.65669 m

 

Lc        = 0,01745 x Rc x ∆

= 0,01745 x 1250 x 11.8o

= 257.3875 m

 

 

 

Tikungan 2

Direncanakan dengan Spiral-Spiral (S-S)

VR       = 80 Km/jam,

1       =16.8890

RC          = 210 m

emax        = 10 %

Dari data diatas diperoleh :

qS           =½ ∆1 = ½ (16.889 0) = 8.4445 0

Ls        =

Ltot     = 2. Ls  = 2.(61.8737) = 123.7474 m

p          =

= 0.76160

k          =

= 31.029

Ts        = ( Rc + p ) tan ½ ∆ + k

= ( 210 + 0.7616 ) tan 8.44450 + 31.029

=  62.3185 m

Es        = (Rc + p) Sec ½ ∆1- Rc

= (210 +0.7616) Sec 8.4450-210

= 3.0694 m

●.Cek T  yang tersedia

Tc(tikungan 1) + Ts (tikungan 2) + Jarak jalan lurus minimum <  jarak antara titik tikungan 1 dan 2

129,174 + 62.3185 + 20 < 386,8480

211.4925 m  < 380,865  m …. Ok!!!

 

   Gambar Pemeriksaan T tersedia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Panjang Jalan Rencana (D) :

 

 

 

 

 

3.7.7 DIAGRAM SUPER ELEVASI

Tikungan 1 ( FC )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tikungan 2 ( SS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.7.8. Perncanaan Tikungan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar Sket Tikungan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.7.9. Perhitungan Stasioning

TITIK

STA

ELEVASI

JARAK

BEDA TINGGI

KEMIRINGAN

G

0

+

0

83

50

0

0.00%

1

0

+

50

83.26965

50

0.26965

0.54%

2

0

+

100

82.726

50

0.54365

1.09%

3

0

+

150

83.3481

50

0.6221

1.24%

TC1

0

+

152.464

83.37578

2.464

0.62421

25.33%

4

0

+

200

82.8925

50

0.4556

0.91%

5

0

+

250

83.11631

50

0.22381

0.45%

P1

0

+

283.8054

84.61455

33.8054

0.38545

1.14%

6

0

+

300

84.5557

50

0.05884966

0.12%

7

0

+

350

86.0026

50

1.4469

2.89%

8

0

+

400

84

50

2.0026

4.01%

CT1

0

+

411.219

81.20377

11.219

0.79623

7.10%

9

0

+

450

84.29165

50

0.29165

0.58%

10

0

+

500

84.988

50

0.69635

1.39%

11

0

+

550

85.956

50

0.968

1.94%

TS2

0

+

554.1056

85.81

4.1056

0.1905841

4.64%

12

0

+

600

84.1804

50

1.7756

3.55%

P2

0

+

616.8663

83.66935

16.8663

0.51105

3.03%

13

0

+

650

84.1715

50

0.50215

1.00%

ST2

0

+

678.208

83.78784

28.208

0.212154

0.75%

14

0

+

700

84.155

50

0.0165

0.03%

15

0

+

750

87

50

2.845

5.69%

16

0

+

800

86.1214

50

0.8786

1.76%

I

0

+

806.3278

87.96

6.3278

1.8386

29.06%

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.8              PERENCANAAN ALINEMEN VERTIKAL.

Perencanan alinemen vertikal merupakan salah satu cara agar pembangnan jalan yang kita lakukan menjadi lebih ekonomis serta memperhitungkan factor keamanan para pengguna jalan.

Alinemen vertical Adalah potongan bidang vertikal dengan bidang permukaan perkerasan jalan yang melalui sumbu jalan atau center line. Dimana pada perencanan ini kita akan melihat potongan memanjang atau permukaan tanah jalan yang akan kita bangun. Dan dari sini kita akan melakukan cut and fill sebagai pertimbangan ekonomis dan merencanakan lengkung vertikal sebagai pertimbangan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan.

Ada dua jenis lengkung vertikal yang digunakan pada perencanaan ini :

  1. lengkung vertikal cekung

yaitu apabila selisih anatara kedua gradien garis yang menghubungkan bernilai negatif (-)

  1. lengkung vertikal cembung

yaitu apabila selisih anatara kedua gradien garis yang menghubungkan bernilai positif (+)

 

3.8.1        Perhitungan Jarak Pandang

a.  Berdasarkan Jarak pandang henti

Jarak Pandang Henti (Jh) adalah jarak pandang yang diperlukan oleh pengemudi untuk dapat menghentikan kendaraannya dengan aman begitu melihat adanya halangan didepannya.

Rumus       :

Untuk jalan lurus

f = Koef. Gesek memanjang perkerasan jalan aspal, ditetapkan 0.35 – 0.55

T = Waktu tanggap, ditetapkan 2.5 detik

Jadi :

Berdasarkan tabel 3.11 Jarak Pandang Henti (Jh) minimum, didapat

  • Tikungan PI, Full Circle (FC)

VR  = 80 km/jam

Jh   = 120 m           (Tabel 3.11)

  • Tikungan P, Spiral-Spiral  (S-S)

VR  = 80 km/jam

Jh   = 120 m           (Tabel 3.11)

\     Dipakai Jh = 120 m

 

Tabel 3.11      Jarak Pandang Henti (Jh) minimum

 

Sumber    :   Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota, Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Bina Marga, Jalan No. 038/T/BM/97

 

b. Perhitungan Jarak Pandang Mendahului.

Jarak Pandang Mendahului (Jd) adalah jarak yang memungkinkan suatu kendaraan untuk mendahului kendaraan lain didepannya dengan aman sampai kendaraan tersebut kembali ke jalur semula.

T1 = 2,12 + 0,026 x Vr = 2,12 + 0,026 x 80 = 4,2 detik

T2      = 6,56 + 0,048 x Vr = 6,56 + 0,048 x 80 = 10,4 detik

a =2,052+0,0036 x Vr=2,052+0,0036x 80 = 2,34 Km/jam/detik

m = 12,5 Km/jam

d1

d2      = 0,278 x Vr x T2 = 0,278 x 80 x 10,4 = 231,296 m

d3      = 75 m    (Tabel Bina Marga TPGJAK)

Tabel 3.6  Besar nilai d3

Vr (km/jam)

50-65

65-80

80-95

95-110

d3

30

55

75

90

d4         =

Jd      = d1 + d2 + d3 + d4

= 84,55 + 231,296 + 75 + 154,197 = 545,043 m

Dipakai 550 m sesuai dengan tabel Bina Marga

Tabel 3.7 Jarak Pandang Mendahului (Jh) minimum

Vr (km/jam) 120 100 80 60 50 40 30 20
Jh Minimum(m) 800 670 550 350 250 200 150 100

Sumber  : Bina Marga TPGJAK No. 038/T/BM/1997

 

  1. Daerah Bebas Samping di Tikungan

Merupakan ruang untuk menjamin kebebasan pandang di tikungan sehingga Jh dipenuhi.

Rumus :

Dimana :

E    = jarak penghalang ke sumbu lajur sebelah dalam (m)

R   = jari-jari sumbu lajur dalam (m)

Jh   = jarak pandang henti

–     Tikungan I, FC

R        = 900 m

Jh        = 120 m

Ltot    = 257.3875 m

Jh = 120 m           < Lc     = 257.3875 m

 

 

E = 25.7996

 

 

–     Tikungan II, SS

R        = 210 m

Jh        = 120 m

LTot     = 123.7474 m

Jh = 120 m           < LTot   = 123.7474 m

 

 

 

 

  1. 1.      Pemeriksaan pelebaran :

Data yang diketahui :

Tikungan PI1 (Full Circle)

–     Kecepatan Rencana (VR)                                    : 80 Km/jam

–     RC                                                            : 210 m

–     Lebar jalur m, 2 arah      (Asumsi)

Dari Tabel diperoleh pelebaran di tikungan per jalur sebesar 0,6 m

Tikungan PI2 (Spiral – Spiral)

–     Kecepatan Rencana (VR)                                    : 80 Km/jam

–     Panjang Jari-jari Minimum (RMin)            : 900 m

–     Lebar jalur m, 2 arah      (Asumsi)

Dari Tabel diperoleh pelebaran di tikungan per jalur sebesar 0,1 m

 

 

 

 

 

 

Tabel 3.8.    Pelebaran di tikungan per lajur

 

Lebar jalur m, 2 arah atau 1 arah

Pelebaran = 0,6 m

Pelebaran = 0,1 m

3.8.3 Perencanaan Profil

  • Perencanaan Lengkungan

Perencanaan alinemen vertikal merupakan salah satu cara agar pembangunan jalan yang kita lakukan menjadi lebih ekonomis serta memperhitungkan faktor keamanan para pengguna jalan.Alinyemen vertikal adalah perpotongan bidang vertikal dengan bidang permukaan perkerasan jalan yang melalui sumbu jalan atau center line.Dimana pada perencanaan ini kita akan melihat potongan memanjang suatu permukaan tanah jalan yang akan kita bangun, dan dari sini kita akan melakukan cut and fill sebagai pertimbangan ekonomis dan merencanakan lengkung vertikal sebagai pertimbangan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan.

Ada dua macam jenis lengkung vertikal yang digunakan pada perencanaan ini:

  1. lengkung vertikal cembung
  2. lengkung vertikal cekung

 

 

 

 

 

 

Tabel 3.14 Penentuan Kemiringan Jalan

Titik

STA

Elevasi

Kemiringan

G

0+000

83.00

0.0465%

1

0+250

83.1163

0.589%

2

0+400

84.00

0.09%

3

0+600

84.1804

1.831%

I

0+806.3276

87.96

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan peraturan Bina Marga  TCPGJAK  No. 38/T/BM/1997 diperoleh :

VR        = 80Km/jam,

Jh           = 120 m

 

Tabel 3.15  Jarak Pandangan Henti (Jh) Minimum      
Vr(km/jam)

120

100

80

60

50

40

30

20

Jh  minimum

250

175

120

75

55

40

27

16

sumber : Bina Mraga TPJGAK No. 038/T/BM/1997        

 

Jd         = 450 m

Lv            = 80 -150 M    (Tabel 3.16)

 

Tabel 3.16 Panjang Minimum Lengkung Vertikal

Kecepatan Rencana

Perbedaan Kelandaian

Panjang Lengkung

(km/jam)

Memanjang (%)

(m)

< 40

1

20 – 30

40 – 60

0,6

40 – 80

> 60

0,4

80 – 150

    Sumber : Tabel 2.24, Bina Marga TPGJAK No. 038/T/BM/1997

 

 

 

 

 

 

 

  1. Perencanaan Lengkung Cekung
    1. Cekung I

 

 

 

 

 

 

 

 

A = 0,8125% ;     Jh = 120 m

 

–     Berdasarkan Jarak Penyinaran Lampu Kendaraan

–     Berdasarkan Kenyamanan

     

–     Berdasarkan Drainase

Diambil Lv = 100 m, maka

STA. PLv1 = 0+250 – (100/2) = 0+200

STA. PTv1 = 0+250 + (100/2) = 0+300

 

 

 

 

 

 

  1. Cekung II

 

 

 

 

 

 

 

 

A = 1.7415%         ;     Jh = 120 m

 

–     Berdasarkan Jarak Penyinaran Lampu Kendaraan

–     Berdasarkan Kenyamanan

     

–     Berdasarkan Drainase

Diambil Lv = 87 m, maka

STA. PLv2 = 0+600 – (100/2) = 0+550

STA. PTv2 = 0+600 + (100/2) = 0+650

 

 

 

 

 

 

  1. Cembung  3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A = 0.499 % ; Jh = 120 m

–     Berdasarkan Jarak Pandang Henti

Berdasarkan Jarak Pandang Mendahului

 

 

 

 

–     Berdasarkan Kenyamanan

     

 

–     Berdasarkan Drainase

Diambil Lv = 100 m, maka

STA. PLv3 = 0+400 – (100/2) = 0+350

STA. PTv3 = 0+400 + (100/2) = 0+450

 

 

3.8.4  Penentuan Elevasi Kelengkungan As Jalan

 

 

                                       

 

 

3.9 PERANCANGAN PENAMPANG MELINTANG JALAN

3.9.1 Penomoran (Stationing) Jalan

 

Stationing dimulai dari titik 0+000 yang berarti 0 meter dari perecanaan jalan. Pada lengkung horizontal dan lengkung vertikal penomoran stationing dilakukan pada titik–titik penting. Penomoran juga dilakukan pada titik tertentu sesuai dengan kondisi yang ada. Hal ini bertujuan agar dalam menghitung galian dan timbunan dapat diupayakan efisiensi mendekati hasil yang sebenarnya.

3.9.2 Potongan Memanjang dan Melintang Jalan

  1. Potongan Memanjang Jalan

 

 

Gambar Potongan Melintang Jalan

 

 

 

 

Tabel. Perencanaan Jalan

TITIK

STA

JARAK

G

0

+

0

50

1

0

+

50

50

2

0

+

100

50

3

0

+

150

50

TC1

0

+

152.464

2.464

PLv1

0

+

200

50

6

0

+

250

50

P1

0

+

283.8054

33.8054

PTv1

0

+

300

50

PLv3

0

+

350

50

8

0

+

400

50

CT1

0

+

411.219

11.219

PTv3

0

+

450

50

10

0

+

500

50

PLv2

0

+

550

50

TS2

0

+

554.1056

4.1056

12

0

+

600

50

P2

0

+

616.8663

16.8663

PTv2

0

+

650

50

ST2

0

+

678.208

28.208

14

0

+

700

50

15

0

+

750

50

16

0

+

800

50

I

0

+

806.3278

6.3278

 

Untuk mempermudah dalam penyajian gambar penampang melintang jalan (cross section), berikut disajikan beberapa pengetahuan perhitungan guna mendukung hal tersebut.

 

  1. Perhitungan kemiringan malintang jalan

a.   Untuk titik-titik yang terletak pada tangen horizontal memiliki perkerasan -2%

b. Untuk titik-titik stationing yang terletak pada lengkung horizontal, kemiringan perkerasan dapat diperoleh dengan diagram superelevasi

  1.  Kemiringan bahu jalan

a. Kemiringan bahu jalan selalu konstan

b. Selisih kemiringan perkerasan dan kemiringan bahu tidak > 4%

  1. Perhitungan lebar perkerasan

a.   Untuk titik yang terletak sepanjang tangen horizontal

Bkiri = Bkanan  = 3,5 m

b.   Untuk titik yang terletak sepanjang lengkung horizontal

B sisi luar         =3,5 m

B sisi dalam      = 3,5 + w

w =  pelebaran perkerasan

  1. pelebaran perkerasan

w

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.8.1                    PERHITUNGAN GALIAN DAN TIMBUNAN

 

Volume galian dan timbunan dalam pekerjaan tanah merupakan salah satu faktor yang penting, karena akan menentukan harga pekerjaan pembangunan jalan secara keseluruhan. Pekerjaan galian dan timbunan yang sedikit misalnya tebalnya diperkirakan 15 cm, volume pekerjaan ini dihitung  dalam m3 .

 

@ Perhitungan Elevasi

Elevasi kanan dan kiri

Untuk memperoleh elevasi kanan dan kiri row dapat dilihat pada kontur potongan memanjang. Elevasi kanan dan kiri dilakukan pada jarak 15 m kanan, dan 15 m kiri dari As jalan.

@ Perhitungan luas galian dan timbunan

Dari sekian banyak data hasil pengukuran luas galian dan timbunan dapat dihitung luasan suatu area dengan menggunakan metode koordinat kartesius :

@ Perhitungan volume galian dan timbunan

Metoda perhitungan volume galian-timbunan sederhana adalah Average End Area Methode.

-          Luas galian/timbunan pada penampang melintang berjarak (d) 25-50 meter.

-          Volume galian (g) adalah luas galian rata-rata dari dari dua penampang berurutan dikalikan dengan jarak antar kedua penampang tersebut.

G = (0,5(G1+G2)) x d

-     Volume timbunan (T) adalah luas timbunan rata-rata dari kedua penampang berurutan dikalikan dengan jarak antar kedua penampang             tersebut.

T = (0,5(T1+T2)) x d

Contoh perhitungan untuk bentuk cross section menurut gambar dibawah ini :

1. Timbunan

Sta 0+50

 

  • Langkah 1: Menghitung Timbunan
     

Koordinat Titik Potong

Luas (m2) Timbunan

Volume (m3) Timbunan

STA

Jarak (m)

 

1

2

3

4

5

6

7

8

   9 10    

0+050

X

35.2

54.75

56.89

61.89

66.8

76.8

81.754

81.754

76.8 35.2

18,1555

726.606

50

y

12.94

18.505

2.16

2.16

18.505

18.505

0

0

18.505 12.94

 

Luas Timbunan adalah =

L = {(X1*Y2)-(X2*Y1) + (X2*Y3)-(X3*Y2) + (X3*Y4)-(X4*Y3) + (X4*Y5)-(X5*Y4) + (X5*Y6)-(X6*Y5) + (X6*Y7)-(X7*Y6) + (X7*Y8)-(X8*Y7) + (X8*Y9)-(X9*Y8)}  + (X9*Y10)-(X10*Y9)}/2  = 18.1555

Luas Timbunan Pada sta 1 + 050 adalah 18,1555 m2

Volume Timbunan adalah luas timbunan x  jarak antar stasioning    = 18.155*50

= 726.606 m3

2. Galian

  • Langkah : Menghitung Galian

 

 

STA

Jarak

 

Koordinat Titik Potong

(m)

1

2

3

4

5

6

7

8

350

X

0

77.18

75.53

65.53

63

53

65.53

0

50

Y

3.98

3.785

1.76

1.76

8.18

8.18

1.76

0

 

 

Koordinat Titik Potong

Luas (m2)

Volume (m2)

9

10

11

12

13

14

Galian

Galian

55

57.24

62.3

64.9

74.94

80

2.18

7.76

7.76

2.18

2.18

7.6

   

 

 

Luas Galian adalah =

L = {(X1*Y2)-(X2*Y1) + (X2*Y3)-(X3*Y2) + (X3*Y4)-(X4*Y3) + (X4*Y5)-(X5*Y4) + (X5*Y6)-(X6*Y5) + (X6*Y7)-(X7*Y6) + (X7*Y8)-(X8*Y7) + (X8*Y9)-(X9*Y8) + (X9*Y10)-(X10*Y9) + (X10*Y11)-(X11*Y10) + (X11*Y12)-(X12*Y11) + (X12*Y13)-(X13*Y12) + (X13*Y14)-(X14*Y13) + (X14*Y15)-(X15*Y14) } / 2

=  8.60478 m2

Luas Galian 1 Pada sta 1 + 350 adalah 8,60478 m2

Volume Galian  adalah luas galian x  jarak antar stasioning = 585.895 m3

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1          Kesimpulan

Jalan yang direncanakan pada desain ini sepanjang 806 m. Pada jalan ini terdapat dua tikungan horizontal, dengan :

  1. Lengkung  I   adalah Tipe Full-Circle (FC)
  2. Lengkung  II  adalah Tipe Spiral-Spiral (S-S)

 

Terdapat 3 Lengkung Vertikal dengan data :

  1. Lengkung Cekung

Lv  = 100 m

Ev  = 0.101 m

  1. Lengkung Cembung

Lv  = 100 m

Ev  = 0.189 m

  1. Lengkung Cekung

Lv  =100 m

Ev  = 0.062 m

 

Untuk Pekerjaan Galian Timbunan :

  1. Galian                                : 6960,  095     m3
  2. Timbunan                          : 9339,  69       m3
  3. Drainase                            :    507, 798     m3

 

4.2          Saran

Sebagai penutup penyusun menyarankan agar pembaca memperhatikan faktor kenyamanan dan ekonomi dalam mendesain suatu jala raya.

 

 

 

About these ads

Tentang benhamd

I'am Passionate happy learner, An engineer in Civil dept,
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s